Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Maret 2016

Memaknai 10 Filosofi Jawa Sunan Kalijaga Bagian 2 (Habis)



Masih tentang memaknai 10 filosofi Jawa Sunan Kalijaga. Setelah dalam tulisan sebelumnya saya sudah berbagi 5 filosofi Jawa beserta maknanya. Hari saya akan memenuhi janji saya untuk merampungkan 5 sisanya. Penulisan ini sengaja saya bagi dalam dua tulisan dikarenakan: Pertama, kalau ditulis seluruhnya dalam satu bagian pasti akan sangat panjang, ditakutkan pembaca akan cepat merasa bosan. Kedua, setelah saya amati lagi 10 filosofi Jawa Sunan Kalijaga ini, menuliskannya dalam 2 bagian itu dirasa tepat, karena 10 filosofi ini ternyata juga terbagi dalam 2 bagian, bagian pertama yang merupakan anjuran dan bagian kedua ternyata berupa larangan. 


 via turwahyudin.blogspot.com

Tanpa berlama-lama lagi saya akan langsung sajikan 5 yang tersisa itu

Mongo dibaca lagi...

Senin, 07 Maret 2016

Memaknai 10 Filosofi Jawa Sunan Kalijaga



Di hari ke 22 ini saya mau berbagi tentang hal-hal yang berbau sastra, apakah ada disini yang pecinta sastra? Agak seriusan dikit nih, hari ini kita akan belajar bersama tentang sebuah filosofi hidup yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga, bahasan ini masuk dalam kategori penelitian sastra. Penasaran?

Tahukah kamu apa itu filosofi? Filosofi merupakan pola pikir manusia atau prinsip hidup yang timbul dari fenomena-fenomena kehidupan yang pernah dialami seseorang. Filosofi juga bisa dikatakan cara bijak dalam memaknai hidup. Bagaimana cara bijak memaknai hidup yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga?

Monggo dibaca... 

Senin, 29 Februari 2016

Belajar dari 7 Makanan Khas Jawa (Tradisi Syawalan)



Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi adatnya masing-masing, yang menjadi satu kearifan lokal daerah tersebut. Dalam masyarakat Jawa terdapat berbagai macam tradisi adat dari mulai kelahiran, pernikahan, sampai kematian juga ada tradisi saat hari-hari besar keagamaan. Dalam berbagai tradisi itu selalu ada makanan khas yang disajikan sebagai pendamping saat prosesi berlangsung. 

Dalam edisi ke-15 #30DWC ini, saya ingin berbagi tentang makanan khas Jawa dan filosofinya dalam tradisi syawalan. Disarikan dari Ceramah KH. Anwar Zahid Bojonegoro, Jawa Timur.
7 makanan khas Jawa yang sering disajikan saat hari besar keagamaan dalam hal ini tradisi syawalan. Dipilih angka 7 ini dimaksudkan sebagai pitu=pituduh (petunjuk), pitutur (nasehat), dan pitulungan (pertolongan). 7 makanan khas ini tak hanya enak di lidah, tapi ternyata mengandung arti filosofi yang bisa mengajarkan banyak hal baik, 7 jenis makanan khas ini diantaranya:

Senin, 22 Februari 2016

Tela’ah Lirik Lagu Sandaran Hati (2-end)



            Yakinkah ku berdiri // di hampa tanpa tepi // bolehkah aku mendengarmu
            Terkubur dalam emosi // tanpa bisa bersembunyi // aku dan nafasku merindukanmu
            Terpuruk ku disini // teraniaya sepi // dan ku tahu pasti // Kau menemani
            Dalam hidupku // kesendirianku 

Pada tulisan sebelumnya telah dibahas siapa itu Letto dan sedikit menela’ah awal lirik lagu. Sang pencipta lagu yaitu mas Sabrang alias Noe dalam sebuah kesempatan menjelaskan bahwa ia tidak ingin memonopoli makna atas lagunya. Dia memberi kebebasan pada setiap penikmat musiknya untuk memberi arti lirik lagunya menurut kacamata pribadi para penikmat musiknya. 

Sedikit flashback dalam tulisan sebelumnya bait-bait awal lagu menggambarkan suatu kegamangan hati dalam proses pencarian Sang Penciptanya. Dalam keterpurukan hidup yang semakin menyiksa, ia temukan bahwa Tuhannya tak pernah meninggalkannya, Dia senantiasa menemani dalam tiap kesendirian.

Kali ini saya akan melanjutkan menela’ah lirik lagu pada bagian Reff

            Teringat ku teringat // pada janjiMu // ku terikat
            Hanya sekejap ku berdiri // ku lakukan sepenuh hati
            Peduli ku peduli // siang dan malam yang berganti
            Sedihku ini tak ada arti // jika Kaulah sandaran hati
            Kaulah sandaran hati

Teringat ku teringat menggambarkankan manusia yang mengingat janjinya kepada Tuhan sebelum dia dilahirkan ke dunia, dengan janji itu dia terikat antara dia dan Tuhannya, antara makhluk dan penciptanya. Sebuah janji yang diucapkan pada zaman azali, janji untuk bersaksi pada Allah adalah Tuhannya dan senantiasa beribadah pada Tuhannya. Tersadar akan janjinya, dalam sekejap ia langsung berdiri, berdiri di sini dapat diartikan beribadah mendirikan sholat dan melakukannya dengan khusyuk sepenuh hati.

Siang dan malam yang selalu berganti, begitupun juga senang yang berganti dengan sedih itu semua adalah realita kehidupan, yang mau tak mau harus dilalui. Tapi jika senantiasa bergantung padaNya dan menyandarkan segala realita hidup kepadaNya. Maka Sedih, sendiri itu tak kan ada artinya. Karena menjadikan Allah sebagai sandaran hati. Lalu diakhirnya diulang dua kali “Kaulah sandaran hati” adalah sebuah kalimat penegas bahwasannya hanya Kaulah sandaran hati, tak ada yang lain hanya Allah lah sandaran hati kita.

            Inikah yang Kau mau // benarkah ini jalanMu
            Hanyalah Engkau yang ku tuju
            Pegang erat tanganku // bimbing langkah kakiku
            Aku hilang arah // tanpa hadirmu
            Dalam gelapnya // malam hariku

Apapun yang terjadi pada diri kita adalah kehendak Qudrat dan Irodatnya (mau) Allah, kita terima dengan apa adanya karena Ridho Allah lah yang menjadi tujuan kita. Memohon untuk senantiasa dalam penjagaanNya dan senantiasa dalam bimbinganNya. Karena kita akan tersesat dan kehilangan arah bila tanpa Dia dalam dunia yang semakin gelap seperti gelapnya malam tanpa cahaya dariNya.
Lirik lagu Sandaran Hatinya Letto ini ternyata mengandung makna yang mendalam tentang hubungan antara manusia dengan penciptaNya. Yakinlah, sebaik-baik sandaran hati kita hanyalah Allah SWT. Saat tak ada pundak untuk bersandar, masih ada lantai untuk bersujud memohon pertolongan hanya kepadaNya. 

Demikianlah review saya tentang lagu favorit saya yang walaupun sudah cukup lama tapi selalu indah untuk didengarkan dan diresapi maknanya sampai saat ini. Terlepas dari benar tidaknya makna-makna yang coba saya tela’ah, saya berharap hal ini membuat kita semakin dekat pada Allah dan senantiasa berkhuznudhon padaNya. 

Mohon maaf bila ada kesalahan dalam tela’ah ini, itu semata karena ketidaksempurnaan saya sebagai manusia.
Semoga bermanfaat
Cahaya Fitria untuk #30DWC8
220216

Minggu, 21 Februari 2016

Tela’ah Lirik Lagu Sandaran Hati (1)




Assalamualaikum Sahabat Cahaya 

Dalam tulisan kali ini saya ingin mencoba menela’ah sebuah lirik lagu. Kalian tentu ingat dengan band Letto. Sebuah Band asal kota gudeg, Jogjakarta yang digawangi oleh Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe, Patub, Arie dan Dedi. Band ini sempat melejit pada era 2000an dengan ciri khas lirik lagu-lagunya yang puitis, didukung dengan permainan musik yang asyik ngejazz-ngejazz gimana gitu :D, serta dilengkapi suara penyanyinya yang lembut nan syahdu. Mereka adalah salah satu band favorit saya kala itu, karena pembawaannya yang santai tapi bersahaja khas para seniman Jogja. 

Disini saya tidak akan membahas tentang grup bandnya, cukup sedikit diawal tadi sebagai flashback ingatan kita. Yang akan saya bahas disini adalah tentang lirik lagunya. Banyak lirik-lirik lagu letto dalam albumnya yang sarat akan makna seperti : Sampai Nanti Sampai Mati, Ruang Rindu, Sandaran Hati, Sebenarnya Cinta, Sebelum Cahaya, Senyumanmu dan masih banyak lagi.

Saya akan mencoba untuk menela’ah lirik lagu Letto yang berjudul Sandaran Hati bait demi bait dari kacamata pribadi

Yakinkah ku berdiri //  Di hampa tanpa tepi 
Bolehkah aku mendengarmu
Terkubur dalam emosi // Tanpa bisa bersembunyi
Aku dan nafasku merindukanmu

Lirik lagu “Sandaran Hati” maknanya sangat dalam, sarat akan sufisme menjelaskan hubungan seorang hamba dengan penciptaNya. Disini pendengar lagunya tidak disuguhi bahasa yang langsung jadi, melainkan harus mengolahnya terlebih dahulu melalui tahap kontemplasi. Tentang seseorang yang sedang dalam kegamangan dalam menghadapi kehidupan tak ada siapapun tempat berbagi, dalam kehampaan yang tiada bertepi dalam pencarian suara hati terdalamnya. Saat emosi menguasi diri tanpa bisa disembunyikan, disaat seperti inilah yang membuat jiwa dan raga merindukan penciptanya.

Terpuruk ku di sini // Teraniaya sepi 
Dan ku tahu pasti // Kau menemani
Dalam hidupku // kesendirianku
  
Dalam keadaan terpuruk saat sepi menyiksa dan hidup berteman kesendirian. Yakinlah, bila kita selalu berada di jalanNya, Dia kan selalu temani di setiap langkah kita. Karena Dialah yang tak pernah pergi saaat yang lain enggan tinggal. Hanya Allah tempat bersandar dari segala permasalahan.

Lanjut Reff

Teringat ku teringat // Pada janjimu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri // Ku lakukan sepenuh hati
Peduli ku peduli // Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti // Jika kau lah sandaran hati
Kaulah sandaran hati...

Mohon maaf sebelumnya karena pembahasan yang masih panjang saya putuskan untuk membaginya menjadi 2 bagian, tunggu kelanjutannya dalam tulisan berikutnya. 
Semoga bermanfaat
 
Cahaya Fitria untuk #30DWC7 
210216